Contoh Kemiskinan Subjektif di Masyarakat

Diposting pada

Contoh Kemiskinan Subjektif

Kemiskinan yang sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, kadangkala bukan karena masyarakat malas untuk melakukan pekerjaan namun bisa disebabkan karena sudut pandang diri sendiri kepada lingkungan sosial yang memang tidak mendukung untuk melakukan kegiatan usaha di daerah tersebut.

Fenomena sosial seperti kemiskinan inilah dikenal bagian daripada jenis kemiskinan subjektif yang pada akhirnya memunculnya permasalahan sosial.

Kemiskinan Subjektif

Kemiskinan subjektif adalah arti kemiskinan yang dipandang  dari beberapa realitas sosial yang umumnya berkaitan dengan penilaian kemiskinan. Sehingga dalam kemiskinan subjektif dapat dilihat dari perilaku, spiritual, kemampuan intelektual, emosional, dan relasional.

Contoh Kemiskinan Subjektif

Berikut merupakan beberapa contoh kemiskinan yang termasuk dalam kemiskinan subjektif. Antara lain;

  1. Merasa uang yang dimiliki sangat terbatas

Perasaan yang timbul dari dalam diri membuat pemikiran seseorang terfokus pada uang yang dimiliki. Hal ini  merupakan contoh perilaku masyarakat yang menganggap dirinya miskin. Penyebab kemiskinan ini bisa dilihat dari jumlah uang yang dimiliki kurang banyak untuk memenuhi kebutuhannya, walaupun apabila dilihat orang tersebut termasuk dengan pendapatan yang tinggi.

  1. Belum memiliki rumah

Rumah merupakan salah satu aset yang dianggap paling besar bagi sebagaian orang. Memiliki rumah dapat dianggap memiliki nilai tersendiri. Hal ini banyak menimbulkan persepsi masyarakat bahwa rumah adalah suatu ukuran seseorang dikatakan kaya atau miskin. Sebanyak apapun uang yang dimiliki ketika belum memiliki rumah maka masih dianggap miskin.

  1. Barang elektronik tertentu

Kepemilikan barang elektronik dengan brand yang terkenal dapat menjadi ukuran seseorang kaya atau miskin. Barang yang saat ini semua orang punya adalah smartphone.

Terdapat salah satu brand smartphone yang dianggap paling mahal dan memiliki nilai tersendiri apabila menggunakan barang tersebut. Misalnya brand Iphone, orang yang menggunakan ini maka akan dianggap banyak uang, sementara dengan harga yang sama namun brand berbeda masih dianggap miskin.

  1. Belum memiliki penghasilan sendiri

Ukuran orang memiliki kekayaan apabila memiliki penghasilan atas kerja kerasnya. Orang yang tidak bekerja namun terus mendapatkan uang dari orang tua tidak akan merasa kaya. Ia menganggap apa yang dimiliki bukan atas usahanya sendiri. Hal ini merupakan salah satu aspek perilaku yang menjadi ukuran seseorang kaya atau miskin.

  1. Tidak memiliki asuransi kesehatan

Kepemilikan terkait dengan asuransi kesehatan merupakan suatu hal yang berharga bagi sebagian orang. Anggapan ini menjadikan orang berpikir bahwa orang yang tidak memiliki asuransi kesehatan adalah orang yang bisa dianggap miskin.

  1. Kurang memahami agama

Pemahaman akan agama akan membentuk pola pikir masyarakat. Masyarakat yang tidak memiliki pemahaman agama yang benar sebanyak apapun harta yang dimiliki akan tetap merasa miskin. Hal ini akan berbeda dengan orang yang memiliki pemahaman agama yang utuh.

Seberapa pun harta yang dimiliki tidak akan merasa kekurangan dan senantiasa bersyukur atas rezeki yang diterimanya.

  1. Merasa jauh dari tuhan

Miskin dalam konteks agama bukan karena tidak memiliki harta, namun kerana merasa jauh dengan tuhan. Miskin disini berarti hubungan antara tuhan dengan makhluk. Orang yang merasa miskin karena jauh dari tuhan maka yang dicari bukan lagi materi melainkan hal lain yang berkaitan dengan tuhan dan agama.

  1. Kurang memiliki pengetahuan

Banyak istilah miskin ilmu, berarti kurang memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang terbatas kadang membuat orang bingung dalam bertindak. Pengetahuan ini merupakan hal yang sangat berharga dan dianggap sebagai kekayaan yang paling utama untuk dimiliki. Hal ini biasanya dilakukan oleh orang yang suka mempelajari hal baru.

  1. Belum bermanfaat bagi orang lain

Perasaan yang timbul dari dalam diri, bahwa dirinya tidak pernah berbuat baik kepada orang lain. Pola pikir ini membuat seseorang akan berusaha menggunakan waktunya untuk membantu orang lain. ketika sudah membantu orang lain memiliki kepuasan tersendiri. Semakin banyak yang dibantu maka akan merasa semakin kaya.

  1. Merasa kurang pengalaman

Kurang pengalaman atau miskin pengalaman, ini termasuk dalam aspek pengetahuan. Pengalaman yang kurang kadang membuat orang kurang percaya diri untuk melakukan sesuatu. Rasa ini timbul bagi orang yang mengutamakan sebuah pengalaman, atau sudut pandang yang dimiliki dari pengalaman.

  1. Kurang kasih sayang orang tua

Orang pada hakekatnya akan merasa kaya apabila setiap arti keluarga dapat berkumpul bercanda dan sering ketemu. Sebagian orang merasa miskin karena kasih sayang orang tua yang kurang. Mereka merasa kesepian dan merasa hidup sendiri.

  1. Jumlah saudara

Kekayaan seseorang kadang dilihat dari jumlah saudara yang dimiliki. Anak tunggal akan merasa kesepian dan menggap orang yang memiliki banyak saudara adalah sesuatu yang menyenangkan. Anggapan ini merupakan hal yang sering muncul di lingkungan kita.

  1. Sulit menjalin relasi dengan orang lain

Kemampuan seseorang dalam menjalin relasi dengan orang lain merupakan sebuah keterampilan tersendiri. Keterampilan ini kadang membuat orang lain yang tidak memiliki relasi merasa miskin. Semakin banyak relasi maka dianggap semakin kaya, anggapan ini membuat banyak orang merasa miskin.

Itulah tadi artikel yang bisa dikemukakan pada semua kalangan berkenaan dengan berbagai contoh yang termasuk dalam kemiskinan subjektif di masyarakat.

No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *