Contoh Wujud Kebudayaan Ide/Gagasan dan Aktivitas

Diposting pada

Wujud Kebudayaan Ide atau Gagasan dan Aktivitas

Dalam telaah ilmu sosial termasuk objek kajian sosiologi sebuah unsur budaya terbagi menjadi beberapa hal. Termasuk budaya material yang merupakan istilah mengacu pada hubungan antara artefak dan aktivitas antar hubungan sosial di lingkungan masyarakat, sedangkan budaya non material mencakup perilaku, ide, gagasan, norma sosial, nilai sosial, dan keyakinan yang berkontribusi pada budaya masyarakat secara keseluruhan.

Meski untuk membedakannya sangatlah mudah akan tetapi dalam berbagai aspek disadari ataupun tidak kajian wujud kebudayaan berupa ide atau gagasan dan aktivitas ini diperlukan penjelasan yang lebih mendalam.

Kebudayaan Ide atau Gagasan dan Aktivitas

Adapun yang dimaksud daripada wujud kebudayaan yang berupa ide atau gagasan dan aktivitas. Antara lain;

  1. Wujud Kebudayaan Ide/Gagasan

Kebudayaan berupa ide dan gagas adalah arti budaya yang mempengaruhi perilaku dan sosialisasi secara langsung di lingkungan sosial bermasyarakat. Sehingga hal ini senantisa mengacu pada beberapa proses yang digunakan budaya untuk membentuk pikiran, perasaan, dan perilaku anggotanya. Dimana empat di antaranya yang terpenting adalah simbol, bahasa, nilai, dan norma.

  1. Wujud Budaya Aktivitas

Budaya aktivitas adalah serangkaian arti tradisi yang dimiliki, mewakili, atau diciptakan oleh sekelompok orang dalam melangsungkan budaya tertentu. Sehingga prihal ini tidak terlepas daripada karakteristik manusia sebagai makhluk sosial yang sejak awal telah berkelompok menjadi komunitas untuk bertahan hidup. Orang hidup bersama untuk membentuk kebiasaan dan perilaku yang sama.

Contoh Wujud Budaya Ide atau Gagasan dan Aktivitas

Sebagai penjelasan lebih mendalam. Berikut ini merupakan contoh penjabaran atas wujud kebudayaan yang berupa ide atau gagasan serta aktivitas. Misalnya saja;

Contoh Kebudayaan Ide/Gagasan

Misalnya saja;

  1. Nilai Sosial

Bagian daripada wujud kebudayaan yang berupa ide dan gagasan seperti adanya nilai sosial di masyarakat. Dimana seseorang akan memerleh lebeling jikalau pernah melakukan pencurian atau kriminalitas tertentu, sebaliknya seseorang mendapatkan predikat baik jikalau rajin beribadah dan menghargai sesama.

  1. Norma Sosial

Norma sosial adalah bagian daripada wujud budaya yang berupa ide dan gagasan. Prihal ini tidak terlepas daripada interaksi sosial salah satunya yaitu mengakibatkan seseorang mengenal norma sosial. Misalnya saja seperti norma menundukan badan ketika melewati orang yang lebih tua, atau makan dengan menggunakan tangan kanan.

Sehingga secara singkat setiap individu dan kelompok haruslah mampu melakukan adaptasi dan bertingkah laku sesuai aturan-aturan yang ada.

  1. Perundang-Udangan

UUD 1945 merupakan seperangkat budaya yang lahir atas ide dan gagasan para pendiri bangsa. Hal ini dibuat untuk sistem pemerintahan, khususnya sebagai bentuk pengawasan yang di lakukan oleh masyarakat untuk melihat jalannnya pemerintahan beserta dengan para aparatnya.

Pada dasarnya undang-undang bagian atas pengendalian sosial ini mencakup berbagai proses yang sebelumnya telah atau belum di rencanakan dengan tujuan untuk mengajak, mendidik atau bahkan memaksa warga masyarakat agar dapat mematuhi segala norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku.

  1. PIIL Psenggiri

Piil pesenggiri bagi masyarakat lampung merupakan seperangkat sifat kebudayaan berupa ide dan gagasan. Dimana hal ini khususnya untuk kehormatan diri atau harga diri orang Lampung dalam menjaga eksistensinya di masyarakat. Penerapannya pun bernilai positif seperti saling menghormati dan menghargai.

Kebudayaan Aktivitas

Sedangkan untuk contoh kongrit daripada wujud kebudayaan yang bersifat aktivitas misalnya saja seperti;

  1. Upaya Perkawinan

Indonesia sejatinya dikenal dengan masyarakat multikultural yang terdiri atas beragam arti suku, makna etnis, dan bermacam arti ras. Maka tak salah dalam berbagai kehidupan penerapan kebudayaan aktivitas ini beragam, khususnya dalam perkawinan. Misalnya saja seperti di Jawa Tengah yang terdiri atas kembar mayang dan midodareni.

Dari penjelasan yang dikemukakan, dapatlah dikatakan bahwa aspek ide atau gagasan dan aktivitas dari dalam budaya dapat berbeda secara halus dari satu daerah ke daerah lain. Hal ini misalnya saja ketika seseorang melakukan perjalanan lebih jauh, berpindah dari daerah yang berbeda ke bagian dunia yang sama sekali berbeda, aspek ide atau gagasan dan aktivitas tertentu dari budaya menjadi sangat asing.

Tetapi yang pasti, perilaku berdasarkan kebudayaan yang dipelajari bukanlah hal yang buruk. Mengenal aturan tidak tertulis membantu orang merasa aman dan “normal“. Alasannya kebanyakan orang ingin menjalani kehidupan sehari-hari dengan percaya diri bahwa perilaku mereka tidak akan diganggu ataupun mengganggu orang lain. Akan tetapi, bahkan tindakan yang tampaknya sederhana seperti pergi ke tempat kerja membuktikan banyak kesopanan budaya.

Ambil contoh pergi bekerja dengan transportasi umum. Baik orang sedang bepergian di Dublin, Kairo, Mumbai, atau San Francisco, banyak perilaku yang akan sama, tetapi perbedaan yang signifikan juga muncul di antara budaya. Biasanya, penumpang akan menunggu bus di halte atau menunggu kereta di stasiun, kemudian membayar agen sebelum atau setelah naik, dan menempati tempat duduk yang tersedia.

Tapi ketika naik bus di Kairo, penumpang mungkin harus lari, karena bus di sana sering tidak berhenti karena sudah penuh dengan penumpang. Penumpang bus Dublin diharapkan mengulurkan tangan untuk menunjukkan bahwa mereka ingin bus berhenti untuk mereka.

Dan saat menaiki kereta komuter di Mumbai, penumpang harus masuk ke dalam gerbong yang empuk di tengah banyak dorongan di peron yang penuh sesak. Perilaku semacam itu akan dianggap sebagai puncak kekasaran di Amerika Serikat, tetapi di Mumbai hal itu mencerminkan tantangan sehari-hari untuk berkeliling dengan sistem kereta api yang dikenakan pajak sesuai kapasitas.

Oleh karena itulah dalam contoh perjalanan ini, budaya terdiri dari pemikiran (ekspektasi tentang ruang pribadi, misalnya) dan hal-hal yang berwujud (halte bus, kereta api, dan kapasitas tempat duduk). Budaya material mengacu pada benda atau harta benda sekelompok orang. Tiket metro dan token bus adalah bagian dari budaya material, begitu pula mobil, toko, dan struktur fisik tempat orang beribadah.

Nah, itulah saja penjelasan dan ulasan yang bisa diberikan pada semua pembaca berkenaan dengan berbagai contoh daripada wujud kebudayaan yang berupa ide atau gagasan serta aktivitas yang bisa ditemukan dalam keseharian. Semoga berguna.

No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *