Pengertian Pendidikan Keagamaan, Ciri, Tujuan, Fungsi, dan Contohnya

Diposting pada

Pengertian Pendidikan Keagamaan

Pendidikan Keagamaan atau religious education adalah istilah yang diberikan untuk arti pendidikan yang berkaitan dengan agama. Atau ada pula yang mendefinisikan pendidikan keagamaan sebagai mata pelajaran yang diajarkan di tingkat dasar dan menengah yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman anak-anak tentang agama. Salah satu tujuan pelaksanaan pendidikan nilai agama adalah agar anak-anak akan belajar tentang berbagai agama dan tradisi, praktik dan kepercayaan mereka.

Selain itu, pendidikan keagamaan juga akan meningkatkan toleransi anak-anak dan membentuk sikap saling menghormati dalam masyarakat yang beragam. Di Indonesia sendiri, secara spesifik ada lembaga penyelenggara pendidikan agama, misalnya Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang setingkat SD; Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang setingkat SMP; Madrasah Aliyah (MA) yang setingkat SMA; dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) yang setingkat SMK.

Pendidikan Keagamaan

Dalam penggunaan sekulerisme pendidikan agama adalah pengajaran agama tertentu dan berbagai aspeknya, yang meliputi kepercayaan, doktrin, ritual, adat istiadat, ritus, dan peran pribadinya. Dalam budaya Barat dan sekuler, pendidikan agama menyiratkan jenis pendidikan yang sebagian besar terpisah dari akademisi, dan yang menganggap keyakinan agama sebagai prinsip fundamental dan modalitas operasional, serta kondisi prasyarat kehadiran.

Konsep sekuler secara substansial berbeda dari masyarakat yang menganut hukum agama, di mana “pendidikan agama” berkonotasi dengan studi akademis yang dominan, dan dalam istilah agama, mengajarkan doktrin yang mendefinisikan kebiasaan sosial sebagai “hukum” dan pelanggarannya sebagai “kejahatan”, atau pelanggaran ringan lainnya yang membutuhkan koreksi hukuman.

Pengertian Pendidikan Keagamaan

Pendidikan keagamaan adalah komponen penting dari pendidikan yang luas dan seimbang, serta  merupakan titik fokus dalam kurikulum yang berkaitan dengan pengembangan spiritual, moral, nilai sosial dan budaya, dan nilai-nilai. Hal tersebut memungkinkan pertumbuhan literasi agama, penting untuk kehidupan di Inggris modern dan dunia yang lebih luas.

Pendidikan kegamaan berkaitan dengan makna mendalam yang dibuat oleh individu dan kelompok dari pengalaman mereka dan bagaimana ini membantu mereka memberikan tujuan hidup mereka. Ini memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi, membuat dan menanggapi makna dari pengalaman tersebut dalam kaitannya dengan keyakinan dan pengalaman orang lain serta pengalaman sendiri.

Pengertian Pendidikan Keagamaan Menurut Para Ahli

Adapun definisi pendidikan keagamaan menurut para ahli, antara lain:

  1. UU No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama Dan Pendidikan Keagamaan, Pasal 1 Ayat 2, Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.
  2. Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama Dan Pendidikan Keagamaan, Definisi pendidikan agama adalah sebagai lembaga pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
  3. Collins Dictionary, Pendidikan keagamaan adalah pendidikan di sekolah yang memberikan penekanan kuat pada kepercayaan yang terkait dengan agama tertentu.
  4. Merriam Webster, Pendidikan keagamaan adalah pelajaran agama sebagai mata pelajaran pendidikan umum yang instruksi dalam prinsip-prinsip keyakinan agama tertentu.
  5. Wikitionary, Pendidikan keagamaan adalah ajaran agama tertentu, dan doktrin, kepercayaan, dan lain-lain. Dimana ajaran tentang berbagai agama, yang disebut juga dengan ilmu agama.

Ciri Pendidikan Keagamaan

Berikut ini ciri atau karakteristik pendidikan agama ditinjau dari segi sistem pembelajarannya yang terkait dengan hak dan kewajiban peserta didik sebagaimana yang tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 pasal 12 ayat 1 dan 2, yaitu sebagai berikut:

  1. Peserta didik berhak memperoleh pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama;
  2. Peserta didik berhak memperoleh pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya;
  3. Peserta didik berhak memperoleh beasiswa bagi yang memiliki prestasi dan orang tuanya dalam kondisi tidak mampu untuk membiayai pendidikannya;
  4. Peserta didik berhak memperoleh biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya dalam kondisi tidak mampu untuk membiayai pendidikannya;
  5. Peserta didik berhak pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara;
  6. Peserta didik berhak untuk menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang telah ditetapkan.
  7. Peserta didik memiliki kewajiban untuk menjaga norma-norma pendidikan agar keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan dapat terjamin;
  8. Peserta didik memiliki kewajiban untuk turut serta menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi mereka yang telah dibebaskan dari kewajiban biaya tersebut berdasarkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tujuan Pendidikan Keagamaan

Tujuan pelaksanaan pendidikan agama ialah untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Hal tersebut sebagaimana yang tercantum dalam PP. 55/2007 Bab II Pasal 2 ayat 2.

Mengacu pada peraturan pemerintah tersebut, tepatnya pada Bab III Pasal 8 ayat 2, secara lebih spesifik disebutkan bahwa pendidikan keagamaan memiliki tujuan untuk membentuk peserta didik yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama yang memiliki wawasan luas, kritis, kreatif, inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.

Fungsi Pendidikan Keagamaan

Pendidikan keagamaan memiliki fungsi untuk mempersiapkan peserta didik agar menjadi anggota masyarakat yang mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Hal tersebut sebagaimana yang tercantum dalam PP. 55/2007 Bab III Pasal 8 ayat 1.

Secara lebih terperinci, fungsi atau manfaat pendidikan keagama, diantaranya yaitu sebagai berikut:

  1. Mendidik manusia agar memiliki pendirian yang kokoh dan sikap yang positif
  2. Mendidik manusia agar memiliki ketentraman jiwa, karena orang-orang yang menganut agama tertentu akan merasakan manfaat dari agamanya tersebut, terutama ketika mereka sedang menghadap ujian dan cobaan
  3. Mendidik manusia agar memiliki sikap berani menegakkan kebenaran dan takut untuk melakukan kesalahan. Apabila kebenaran sudah ditegakkan maka akan mendapat kebahagian dunia dan akhirat
  4. Agama sebagai alat yang sangat penting untuk membebaskan manusia dari perbudakan terhadap materi.
  5. Mendidik manusia agar tidak tunduk terhadap materi yang sifatnya duniawi, melainkan hanya tunduk kepada Tuhan YME.

Contoh Pendidikan Keagamaan

Contoh-contoh lembaga yang menjadi penyelenggara pendidikan keagamaan di Indonesia, diantaranya yaitu:

  1. Madrasah Ibtidaiyah (MI)

MI ialah jenjang pendidikan dasar di Indonesia yang setara dengan Sekolah Dasar (SD), yang dikelola oleh Kementerian Agama. Waktu tempuh pendidikan di MI sama halnya seperti SD, yaitu dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelad 6. Lulusan MI dapat melanjutkan pendidikan ke Mts atau SMP.

  1. Madrasah Tsanawiyah (MTs)

Mts ialah jenjang pendidikan menengah di Indonesia yang setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang dikelola oleh Departemen Agama. Waktu tempuh pendidikan di Mts sama halnya seperti SMP, yaitu dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9.

  1. Madrasah Aliyah (MA)

MA ialah jenjang pendidikan menengah di Indonesia yang setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA), yang dikelola oleh Kementerian Agama. Waktu tempuh pendidikan di MA sama halnya seperti SMA, yaitu dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12.

  1. Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)

MAK ialah jenjang pendidikan menengah di Indonesia yang setara dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang dikelola oleh Kementerian Agama dengan menyelenggarakan program pendidikan kejuruan dan memiliki kekhasan pengajaran agama Islam.

  1. Pesantren

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan non formal Islam tradisional yang para santrinya tinggal bersama dalam suatu asrama sebagai tempat menginap dan belajar di bawah bimbingan Kyai. Para santri berada dalam kompleks yang juga menyediakan fasilitas meliputi:

  1. Masjid untuk beribadah
  2. Ruang untuk belajar
  3. Kegiatan keagamaan lainnya
  1. Seminari Alkitab

Seminari merupakan lembaga pendidikan yang dikhususkan bagi para calon pendeta (padri, pastor) Katolik Roma. Di Gereja Katolik yang tersebar di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 37 Seminari Menengah yang terbagi dalam 5 regio, yaitu:

  1. Regio Jawa,
  2. Regio Sumatera,
  3. Regio Kalimantan,
  4. Regio Nusa Tenggara, dan
  5. Regio MAMPU (Maluku, Ambon, Makasar, Papua).

Nah, itulah saja artikel yang bisa dibagikan pada semua kalangan berkenaan dengan pengertian pendidikan keagamaan menurut para ahli, ciri, tujuan, fungsi, dan contohnya yang ada di masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

No votes yet.
Please wait...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.