Pengertian Perilaku Menyimpang, Ciri, Jenis, dan Contohnya

Diposting pada

Perilaku Menyimpang Adalah

Perilaku menyimpang kerapkali dalam objek kajian sosiologi dikenal dengan deviant behavior yang artinya kondisi dalam lingkungan sosial yang tidak sesuai atas norma dan nilai yang sejatinya dianut oleh masyarakat. Sehingga secara kasap mata, atas refleksi inilah perilaku menyimpang disamakan dengan penyimpangan sosial.

Perilaku Menyimpang

Sejatinya dalam kehidupan bermasyarakat prilaku menyimpang akan senantiasa ada, hal inilah yang menjadi penghambat terjadinya keteraturan sosial. Sehingga masyarakat yang sadar akan ancaman tersebut pada akhirnya membentuk aturan-aturan demi menjaga kesabilan dalam kehidupan yang dilakukan.

Pengertian Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang adalah serangkain tindakan yang dilakukan oleh seseorang/kelompok yang tidak sesuai atas norma/nilai yang dianut oleh masyarakat. Meskipun dalam bentuk prilakunya terjadinya keadaan ini bisa ditoleransi jikalau memang masyarakat masih menganggapnya belum mengancam aturan yang dibuat, misalnya saja seperti pirlaku seseorang ketika ada gotong royong dan tidak hadir.

Disisi lain untuk prlaku menyimpang lainnya yang tidak dapat diampuni adalah ketika mengancam kesetabilan kehidupan bermasyarakat tindakan ini sebagimana dengan melanggar hukum atau tauran-aturan yang secara formal telah ditentukan. Misalnya saja dengan pemakaian narkoba, kumpul kebo dengan padangan dan lain sebaginya.

Pengertian Perilaku Menyimpang Menurut Para Ahli

Definisi perilaku menyimpang menurut para ahli, antara lain adalah sebagai berikut;

Waluyo (2009)

Prilaku menyimpang adalah suatu keadaan yang tidak lagi dianggap sesuai dengan adanya beragam norma dan nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat. Sehingga kondisi inilah dapat menimbulkan gejolak, alasannya karena aturan-aturan yang telah menjadi konsensus bersama dilangar dengan sedikian rupa sehingga masyarakat menjadi tidak taan terhadap aturan yang ada.

Ciri Perilaku Menyimpang

Karakteristik dari perilaku menyimpang antara lain adalah sebagai berikut;

  1. Tidak sesuai dengan norma yang dianut oleh masyarakat
  2. Tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai sosial yang dilakukan oleh masyarakat
  3. Memberikan dampak yang kurang baik bagi kesetabilan hidupn bermasyarakat
  4. Memberikan ancaman bagi ketentaram hidup bermasyarakat.

Jenis Perilaku Menyimpang

Paul B. Horton (1999) sebagi salah satu teori sosiologi, menggolongkan berbagai bentuk perilaku menyimpang, antara lain adalah sebagai berikut;

Penyimpangan dapat Didefenisikan

Bentuk penyimpangan dalam kehidupan masyarakat haruslah dapat didefinisikan dari keadaan yang sudah menjadi aturan-aturan bersama. Definisi ini memberikan gambaran secara jelas tentang makna penyimpangan itu sendiri yang tidak berlaku untuk umum.

Pada persoalan ini dapatlah digambaran secara kontekstual misalnya saja untuk masyarakat Indonesia yang dinamakan penyimpangan ialah kondisi pelanggaran pada aturan UU dan Pancasila yang keduanya merupakan unsur terpenting dalam tata muat hukum masyarakat.

Penyimpangan Diterima atau Ditolak

Konsep lainnya yang berhubungan dengan karakteristik dalam penyimpangan sosial ialah keadaan tentang adanya sikap masyarakat yang menerima ataupun menolak penyimpangan tersebut. Bahkan Paul B. Horton (1999), mengungkapkan bahwa tidak selamanya perilaku menyimpangan dalam masyarakat merupakan hal yang negatif.

Ada beberapa penyimpangan yang dapat diterima bahkan dipuji dan dihormati lantaran sesuai dengan kondisi dalam kehidupan masyarakat yang dialaminya.

Prilaku ini menurut Max Weber  (dalam Koentjaraningrat, 1990) sebagai teori  sosiologi klasik dikenal dengan tindakan sosial yang artinya prilaku yang dijalankan seseorang karena mendapatkan pengeruh pada lingkungan disekeliling. Dengan memiliki 3 bentuk, antara lain;

  1. Rasionalitas instrumental yang artinya sebagai prilaku masyarakat dengan melihat pada objektifitas antara pengetahuan dengan tujuan yang ingin diacapai.
  2. Rasionalitas berorientasi nilai yaitu sebuah prilaku yang dijalankan oleh masyarakat dengan tidak memberikan perhitungan pada manfaatnya yang diberikan, akan tetapi lebih pada aspek tujuan yang dicapai serta pandangan baik dalam kehidupan masyarakat.
  3. Tindakan afektif yang artinya adalah prilaku seseorang dijalankan dengan dramatisisr (dibuat-buat), sehingga kondisi ini kerapkali didasari pada perasaan emosi dan kepura-puraan seseorang.

Selengkapnya, bacaTeori Tindakan Sosial Max Weber & Talcot Parsons

Penyimpangan Relatif dan Penyimpangan Mutlak

Prilaku penyimpangan dalam koredor ini ialah tindakan yang dijalankan oleh seseorang dengan menitikberatkan pada pandangan orang lainnya. Prilaku ini kerapkali dihubungan dengan sikap tengang rasa yang dilakukan antar kelompok dengan pengaruh budaya di dalamnya.

Penyimpangan terhadap Budaya Ideal

Bentuk prilaku menyimpang lainnya yang memiliki ciri khas dengan kondisi yang seharusnya dijalankan oleh masyarakat. Keadaan ini kerapkali berhubungan erat dengan kebudayaan, dimana kebudayaan itu sendiri ialah menurut Soekamto, (1989) adalah keadaan yang memberikan cangkupan atas semua yang dapat dipelajari dari beragam pola-pola perilaku yang normative dalam kehidpan masyarakat, termasuk pola berfikir, merasakan, dan bertindak.

Terdapat Norma-Norma Penghindaran

Ciri penyimpangan sosial lainnya ialah terdapatnya beragam norma penghindaran pada pola perbuatan yang kerapkali dijalankan oleh seseorang untuk memenuhi keinginan pihak lain, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan secara terang-terangan atau terbuka.

Penyimpangan Sosial Bersifat Adaptif

Perilaku menyimpang yang terdapat dalam kehidupan masyarakat merupakan sebuah element dasar dalam proses menyesuaikan kebudayaan dengan berhubungan erat pada perubahan sosial. Dalam konsep ini diartikan bahwa tidak ada masyarakat bisa bertahan dalam kondisi statis untuk jangka waktu lama.

Contoh Perilaku Menyimpang

Sebagai penjelasan lebih lanjut, tentang beragam contoh keadaan yang bisa disebut sebagai perilaku menyimpang di tengah-tengah kehidupan dalam keseharian, antara lain adalah sebagai berikut;

Sekolah

Contoh pertama ialah bentuk perilaku menyimpang di sekolah yang bisa diberikan dalam kasus ini ialah tidak membayar uang kas (iuran) padahal sebelumnya telah disepakai aturan pembayaran tersebut. Sehingga akibatnya seseorang yang melanggar akan diberikan sanksi atau dikucilkan dari pergaulan.

Keluarga

Contoh kedua dalam jenis perilaku menyimpang di keluarga ialah adanya tidakan dari anggota keluarga untuk tentang aturan pulang malam. Semisal dalam konteksnya seorang anak yang pulang lebih dari Jam 22:00 tidak akan dibukakan pintu. Meski pada fakatnya ketika hal ini terjadi orangtua masih bisa mentoleransi.

Masyarakat

Sedangkan contoh prilaku mentimpang yang dilakukan oleh seseorang pada masyarakat misalnya saja ketika terjadi jadwal ronda malam. Jadwal ini telah dituliskan pada Gardu (Siskampiling) dan telah dintandatangani oleh ketua RT/RW setempat.  Akan tetapi ketika seseorang tersebut tidak hadir dalam jadwa yang ditentukan bisa dikategorikan sebagai perilaku yang menyimpang.

Keseharian

Contoh terakhir akan adanya bentuk perilaku menyimpang dalam keseharian ini misalnya saja ketika seseorang akan mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Maka diwajibkan untuk mempergunakan helm. Meskipun demikian tak jarang dari banyak anggota masyarakat yang melanggarnya, kondisi inilah pada kenyataannya menjadi salah satu bentuk perilaku menyimpang yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, itulah tadi serangkain artikel yang sudah kami jelaskan secara lengkap kepada segenap pembaca sekalian terkait dengan pengertian perilaku menyimpang menurut para ahli, ciri, teori, jenis, dan contohnya dalam keseharian. Semoga melalui tulisan ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan. Trimakasih,

Sumber Tulisan
  • Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L. 1999. Sosiologi Jilid 1. Edisi Keenam.  Jakarta: Erlangga
  • Bagja, Waluya, 2009. Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
  • Koentjaraningrat. 1990. Pengantar llmu Antropologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *