Pengertian Gaya Hidup, Jenis, Indikator, dan Faktornya

Diposting pada

Gaya Hidup Adalah

Orang yang diberi ujian oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan disabilitas yang disandangnya seperti tidak dapat berjalan normal, tentunya menginginkan kapabilitas seperti orang lain yang bisa berlari. Ada orang yang bisa berjalan dengan normal, namun yang selalu terbesit dalam benaknya adalah memiliki sepeda motor agar tidak capek. Padahal yang terjadi adalah pemilik sepeda motor iri pada orang yang kemana-mana selalu menggunakan mobil.

Sepenggal kisah tersebut adalah contoh orang yang tidak mampu bersyukur atas keadaan hidupnya. Sejatinya kita sebagai manusia harus senantiasa bersyukur atas berkah dan rahmat yang dilimpahkan Tuhan Semesta Alam. Mengapa orang sulit untuk bersyukur? Jawabannya adalah tekanan gaya hidup. Gaya hidup membuat orang selalu menginginkan yang lebih. Apa sebenarnya yang dimaksud gaya hidup? Penjelasannya sebagai berikut.

Gaya Hidup

Gaya hidup adalah perilaku manusia yang menunjukkan bagaimana cara mereka mempergunakan harta benda dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik untuk keperluan dirinya sendiri ataupun keperluan dalam memenuhi gensi/keinginan.

Singkatnya dalam kajian ini, mislanya uang sebesar Rp. 50.000,- apakah bisa digunakan untuk biaya hidup dalam sehari? Jawabannya tergantung gaya hidup masing-masing orang yang mempergunakannya. Uang senilai Rp. 50.000,- tersebut bisa untuk makan 3 kali sehari dan tentunya sisa jika memilih warteg sebagai menu utama.

Namun uang sebesar Rp. 50.000,- tersebut tidak bisa dipakai untuk membeli 1 piring makanan yang tersedia di restoran mewah. Hal ini bersifat relatif sesuai dengan kebutuhan yang harus dipenuhi.

Pengertian Gaya Hidup

Gaya hidup adalah faktor yang dipergunakan untuk dapat menentukan seberapa besar arti nilai suatu barang/jasa/uang yang berfungsi sebagai nilai tukar. Hukum ekonomi mengatakan, semakin kaya seseorang, maka kebutuhan gaya hidup makin tinggi.

Jenis Gaya Hidup

Gaya hidup yang dipelajari dalam ilmu antropologi mengandung terdapat beberapa jenis. Jenis tersebut terbagi atas dasar klasifikasi penggunanya. Hal dikarenakan banyak indikator yang terjadi pada manusia sebagai makhluk sosial dalam menjalani gaya hidup. Klasifikasi gaya hidup terbentuk otomatis dengan sendirinya sesuai bidang yang dialami. Apa sajakah jenis-jenis gaya hidup? Penjelasannya sebagai berikut.

Funcionalists

Yang pertama adalah gaya hidup funcionalists. Gaya hidup ini yang paling utama dan hampir dilakukan oleh semua kalangan masyarakat.

Definisi gaya hidup funcionalists adalah penggunaan harta yang dihabiskan untuk suatu hal penting seperti pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal yang sifatnya sewa. Gaya hidup tersebut biasanya terjadi pada pekerja buruh pabrik, kuli bangunan, dan pekerja kasar lainnya.

Nurturers

Gaya hidup yang nomor 2 adalah nurturers, definisinya adalah pendapatan yang dihabiskan untuk membina rumah tangga baru.

Gaya hidup tersebut terjadi pada pasangan yang baru saja menikah. Harta mereka difokuskan untuk membangun rumah yang kelak dapat digunakan untuk hidup keluarganya. Umumnya keluarga yang memiliki gaya hidup seperti ini hidupnya damai, nyaman, dan tenteram.

Aspirers

Selanjutnya ada gaya hidup aspirers, pengetiannya adalah orang yang membelanjakan hartanya untuk keperluan status sosial.

Istilah millennial masa kini dinamakan panjat sosial. Mereka percaya dengan memiliki barang-barang mewah dan bermerk maka relasi atau koneksi dalam pekerjaan akan datang dengan sendirinya. Sebagian ada yang berpendapat bahwa hanya untuk memuaskan dahaga mereka akan kemewahan.

Experientials

Berikutnya adalah gaya hidup experientals, yaitu orang yang membelanjakan hartanya untuk keperluan barang hiburan, hobi, dan kesenangan. Biasanya, orang yang memiliki gaya hidup seperti ini adalah seorang pengusaha. Meski pendidikan mereka hanya sebatas rata-rata namun karena kegigihannya dalam membangun usaha maka dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah dalam jumlah menakjubkan.

Succeeders

Jenis gaya hidup yang nomor 5 namanya succeeders, artinya perilaku yang ditujukan untuk orang yang membelanjakan hartanya untuk urusan meningkatkan usahanya. Gaya hidup seperti ini ditemukan pada pengusaha besar yang namanya sudah terkenal. Mereka lebih nyaman membelanjakan harta untuk urusan investasi jangka panjang. Sehingga tidak memperdulikan keinginan semata.

Moral Majority

Gaya hidup yang keenam adalah moral majority, yaitu orang yang membelanjakan hartanya untuk urusan organisasi, lembaga politik, dan lembaga agama.

Mereka yang berkepribadian gaya hidup moral majority sering disebut donatur. Menurut mereka, dengan menjadi donatur maka harta akan selalu bertambah. Tidak pernah ada orang yang jatuh miskin karena sedekah. Sungguh betapa baiknya orang yang memiliki gaya hidup moral majority.

The Golden Years

Yang nomor 7 terdapat jenis gaya hidup yang bernama The Golden Years, artinya orang yang sudah memasuki masa pensiunan.

Mereka memperoleh penghasilan di usia senja dan tidak memiliki tanggunan lagi. Golden years berarti tahun emas dimana kejayaan diperolehnya. Orang yang memiliki gaya hidup seperti ini lebih suka membelanjakan penghasilannya untuk renovasi rumah.

Sustainers

Ke 8 terdapat gaya hidup berjenis sustainers. Gaya hidup sustainers adalah orang yang memasuki masa pensiun, memperoleh penghasilan pensiunan, namun mempergunakan uangnya untuk hal-hal yang tidak penting seperti judi, pelacuran, alcohol, dan lain sebagainya. Orang dengan gaya hidup seperti ini sebaiknya dihindari karena tidak tahu diri, sudah tua bukannya bertaubat malah semakin menjadi-jadi.

Subsisters

Jenis gaya hidup yang terakhir adalah subsisters, yaitu orang yang memang sudah sejahtera dari lahir hingga mati. Gaya hidup seperti ini terjadi pada keluarga yang dasarnya memang kaya. Perusahaan diturunkan menurut silsilah keluarga.

Jadi beberapa turunan, keluarga tersebut akan tergolong pada gaya hidup subsisters. Di Indonesia, keluarga subsisters antara lain Tanoesoedibjo, Bakrie, Tanjung, dan lain sebagainya.

Indikator dan Pengukuran Gaya Hidup

Gaya hidup diukur melalui beberapa indikator. Gaya hidup tidak sehat mengartikan pada peribahasa yang berbunyi besar pasak dari pada tiang.

Arti dari peribahasa tersebut adalah orang yang kebutuhannya lebih tinggi dari pada penghasilannya. Biasanya, tekanan tersebut datang ketika mengikuti gaya hidup yang berlainan dengan pekerjaannya. Hal ini bisa memicu tekanan yang sangat kuat dalam psikologisnya.

Faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup

Dalam masyarakat, gaya hidup yang menghinggapi terjadi karena beberapa alasan. Faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang bisa berawal dari dalam diri sendiri maupun pihak luar.

Sejatinya semua yang terjadi pada diri individu tidak hanya bermula dari luar, namun karena lemahnya kontrol diri. Kita sebagai manusia perlu intropeksi diri agar tidak terjebak dalam gaya hidup yang salah. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi gaya hidup? Berikut penjelasannya.

Sikap

Sikap seseorang mempengaruhi gaya hidupnya. Orang yang bersikap acuh tak acuh pada perkembangan smartphone tidak mungkin terjerumus pada aktivitas gonta ganti hape. Mereka memilih menggunakan smartphone secara bijak dari awal membeli hingga rusak. Bersikap peduli dengan perkembangan dunia itu baik, namun harus tetap melihat kemampuan diri.

Nah, artikel diatas merupakan materi yang membahas tentang gaya hidup. Semoga artikel diatas dapat bermanfaat bagi para pembaca sebagai sarana edukasi dan media penambah ilmu pengetahuan yang mendalam. Sekian dan terima kasih!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *