Contoh Etnosentrisme di Masyarakat dalam Keseharian

Diposting pada

Contoh Etnosentrisme di masyarakat

Etnosentrisme adalah fanatisme dari pengertian suku bangsa yaitu persepsi yang dimiliki seorang individu yang menganggap bahwa kebudayaan yang mereka miliki lebih baik dari kebudayaan lainnya, selain itu juga menganggap cara hidup bangsanya paling baik. Sebagai pembahasan lebih lengkapnya artikel ini menuliskan contoh etnosentrisme di masyarakat secara umum.

Etnosentrisme

Etnosentrisme adalah persepsi atau pemahaman yang dipunyai oleh individu atau kelompok tertentu dengan menganggap bahwa kebudayaan sendiri lebih baik dari budaya yang lain, baik dari segi bahasa, perilaku, kebiasaan dan juga agama.

Pengertian Etnosentrisme

Pengertian etnosentrisme adalah pandangan yang dimiliki individu maupun kelompok, yang dimana sangat mengunggulkan ras maupun kelompoknya dibanding dengan kelompok yang lainny, terutama yang ada di lingkungan masyarakat.

Pengertian Etnosentrisme Menurut Para Ahli

Adapun pengertian etnosentrisme menurut para ahli adalah sebagai berikut:

  1. Hogg, Etnosentrisme digambarkan sebagai sebuah kegiatan yang melibatkan atribusi internal dan eksternal dalam kehidupan masyarakat.
  2. Taylor, Peplau dan Sears, Etnosentrisme adalah sesuatu hal yang mengacu pada kepercayaan kelompok masyarakat, bahwa kebudayaannya selalu superior dari pada kebudayaan yang lain.
  3. Hariyono, Etnosentrisme adalah suatu perasaan in group dan out group dalam dasar sikap yang dilakukan oleh seseorang.
  4. Sumner, Etnosentrisme merupakan kecenderungan manusia yang mengikuti naluri biologinya untuk mementingkan diri sendiri, lebih unggul dari orang lain, dan menjadi seorang individualistik. Hal ini akan membuat hubungan yang bersifat antagonistik (pertentangan) dengan kebudayaan lain, akibat sikap yang berlebihan tanpa adanya pengontrolan.
  5. Zastrow, menurut Zastrow, etnosentrisme adalah suatu sikap yang dilakukan oleh kelompok etnis secara tertutup tanpa mempertimbangkan keadaan dalam contoh kelompok sosial lainnya.
  6. Poerwanti, Etnosentrisme adalah pandangan bahwa kelompok sendiri merupakan pusat segalanya dan kelompok lain akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar kelompoknya sendiri.
  7. Barger, Etnosentrisme adalah kecenderungan berpikir bahwa kelompoknya sendiri lebih superior dari kelompok lain atau menilai kelompok lain inferior dari kelompoknya sendiri.

Faktor yang Mempengaruhi Etnosentrisme

Adapun faktor yang mempengaruhi etnosentrisme diantaranya yaitu:

  1. Prasangka Sosial, Sikap negatif yang diarahkan kepada seseorang atas dasar perbandingan dengan kelompok sendiri.
  2. StereotipKeyakinan seseorang terhadap orang lain karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman.
  3. Jarak Sosial, Adanya jarak yang cukup signifikan sehingga menimbulkan prasangka-prasangka dalam kehidupan bermasyarakat.

Dampak Etnosentrisme

Adapun dampakdariadanyaetnosentrisme diantaranya yaitu:

Dampak Positif

  1. Meningkatkan semangat patriotisme.
  2. Menjaga keutuhan dan kestabilan kebudayaan.
  3. Meningkatkan rasa cinta tanah air.
  4. Menjaga rasa persaudaraan.
  5. Menimbulkan sikap tolong-menolong yang menimbulkan sama rasa.

Dampak Negatif

  1. Menimbulkan contoh konflik sosial antar suku, agama, ras dan juga golongan.
  2. Munculnya berbagai macam aliran politik.
  3. Menghambat proses asimilasi dan integrasi.
  4. Mengurangi keobjektifan ilmu pengetahuan.
  5. Menghambat proses asimilasi atau pertukaran budaya yang berbeda satu sama lain.

Contoh Etnosentrisme

Adapun untuk contoh etnosentrisme di masyarakat Indonesia yang secara umumnya terjadi, antara lain adalah sebagai berikut;

  1. DPR sebagai orang-orang terpilih yang mewakili suara rakyat, pada kenyataannya dipenuhi dengan oknum yang mengutamakan kepentingan pribadi dan parpolnya ketimbang kepentingan rakyat, serta dilakukan secara implisit dan eksplisit.
  2. Mahasiswa yang berasal dari Medan (suku Batak) akan selalu bersikeras pada pendirian dan sikap yang menyebut dirinya sebagai orang yang tegas, berpendirian, dan kasar (kasar dalam artian tegas). Sedangkan Melayu dikatakan pemalu, relijius, dan merasa lebih bisa diterima di mana pun berada. Sedangkan Jawa, akibat pengaruh orde baru sebagai pusat pemerintahan, menganggap dirinya paling maju dari daerah lainnya di Indonesia.
  3. Tragedi Sampit, antar suku Madura dan Dayak, dimana terdapat kecemburuan ekonomi antar Madura sebagai pendatang dan Dayak sebagai penduduk asli. Tragedi Pos, Ambon, dan Perang adat di Papua.
  4. Tahun 2001 terdapat perang adat antara suku Asmat dan Dani masing-masing suku merasa sukunyalah yang paling benar dan harus dihormati. Perang adat berlangsung bertahun-tahun. Karena sebelum adanya salah satu pihak yang kalah atau semkain kuat danmelebihi pihak yang lain, maka perang pun tidak akan pernah berakhir.
  5. Melakukan bullying, mengejek atau menjauhi temannya yang berasal dari Papua hanya karena kulit mereka yang hitam serta rambutnya yang ikal atau keriting.
  6. Pemakaian koteka yang dilakukan oleh masyarakat papua pedalaman, jika dilihat oleh masyarakat yang bukan berasal dari Papua pedalaman, memakai koteka adalah hal yang memalukan. Sebaliknya, bagi warga pedalaman papua, menggunakan koteka adalah kewajaran, bahkan suatu kebanggaan tersendiri.
  7. Kasus yang sering terjadi di Indonesia ialah penghancuran rumah ibadah secara sepihak yang dilakukan oleh oknum-oknum konservatif yang fanatik dan berlaku main hakim sendiri.
  8. Munculnya berbagai macam aliran politik berbau keagamaan atau keyakinan tertentu.
  9. Masih ada karakter masyarakat Indonesia yang memaknai perbedaan dengan membandingkan kepercayaan mana yang paling benar, perbedaan pendapat suatu masalah dapat berujung pada persoalah ketuhanan, mengurangi keobjektifan ilmu pengetahuan.
  10. Pada masa-masa pemilihan pemimpin daerah ataupun pemimpin negara, masih ada masyarakat Indonesia yang memiliki pola pikir yang hanya melihat pemimpin dari suku, ras yang sama, tanpa menimbang, menilai, dan memerhatikan visi, misi, serta program yang para pemimpinnya tawarkan.
  11. Perilaku carok di Madura. Carok adalah sebuah upaya pembunuhan yang dilakukan oleh laki-laki Madura ketika merasa harga dirinya terusik oleh orang lain. Bagi masyarakat luar yang melihat fenomena ini, mungkin akan menganggap perilaku ini sangat brutal, namun nyatanya bagi masyarakat Madura perilaku tersebut dianggap sangat sakral.
  12. Pandangan sebagian masyarakat Indonesia terhadap keturunan ras Tionghoa yang sampai saat ini masih dipandang sebelah mata dalam segala lini kehidupan bermasyarakat.
  13. Masyarakat Bali sampai saat ini masih berpegang teguh pada tradisi Warna/Kasta yang mengotak-ngotakan masyarakat dalam kedudukan sosial tertentu.
  14. Pernikahan di Desa Adat Panglipuran Bali hanya bisa dilksanakan oleh antar sesama warga. Adanya kepercayaan akan adat, kebiasaan, dan keyakinan yang sama antar keturunan, melanggengkan aturan ini. Apabila dilanggar, individu yang bersangkutan tidak akan dianggap lagi sebagai warga Desa Penglipuran.
  15. Jabatan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta hanya bisa dipercayakan kepada orang asli Yogyakarta yang dianggap sebagai bentuk pengabdian diri total ada Keraton Yogyakarta.

Demikianlah penjelasan mengenai contoh etnosentrisme di masyarakat secara umum. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa menambah wawasan, juga menambah pengetahuan bagi segenap pembaca yang sedang mendalami serta mencari referensi mengenai ‘etnosentrisme’. Terima kasih.

Berikan Rating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *